Jakarta Pendowo Jakarta Pendowo Jakarta Pendowo

Kanthi sesanti .. Joyo joyo wijayanti .. Rahayu ingkang pinanggih

Nuwun

Cari Sesuatu di dalam Blog Ini?

08 September 2013

Blusukan ke Pasar Krendetan, Purworejo

Niatan awal mau beli kembang untuk ziarah kubur sekalian beli sarapan untuk pagi itu di Purworejo. Tapi ternyata setelah memblusuk ke dalam Pasar Krendetan, banyak sekali hal-hal menarik bisa dilihat dan ditangkap ke dalam kamera saya. Dari luarnya saja, saya sudah mendapatkan hal menarik seperti parkiran sepeda motor yang tertata rapi dan parkiran yang benar-benar sepeda dan motor!

Keren Nih Sepeda
Pedagang Kembang Untuk Ziarah Kubur
Salah Satu Pemandangan dari Sudut Pasar

Parkir (yang Benar-Benar) Sepeda (dan) Motor

10 Mei 2011

Roti Bagelen




Minggu kemarin saya pulang dari kantor iseng2 masuk ke sebuah toko swalayan yang ada di jalan Salemba. Secara gak sengaja, saya ke bagian roti. Disana saya jumpai satu label roti: "ROTI MINI BAGELEN". Wah, bikin saya penasaran. Saya beli 2 bungkus Roti Bagelen. Ketika dalam perjalanan saya baca bungkusnya, kok ternyata produksi dari Bandung. Lalu saya coba buka satu bungkus dan saya makan. Hmmm... enak jg rasanya. Bikin tambah penasaran, kenapa namanya roti bagelen? Setelah ngubek2 mbah Google, saya pun tau kalo roti bagelen tuh asalnya dari Purworejo. Berikut tulisan yang saya temukan dari mbah Google:

_________________________________________________________________

Siapa yang tidak kenal Roti Bagelen? Dulu saya kira roti ini termasuk makanan import ternyata asal muasal roti ini dari Purworejo.

Roti yang secara tradisional berasal dari Purworejo, Jawa Tengah ini, mulai unjuk gigi. Penjualannya sudah banyak yang memasuki pasar swalayan dengan kemasan menarik.

Bagelen, sebetulnya, adalah nama sebuah daerah di Purworejo, Jawa Tengah. Tapi, kemudian, nama itu ngetop menjadi nama sebuah jenis roti kering. Sebabnya, tentu saja, karena dulu di Bagelen banyak perajin roti kering. Mereka menyebutnya roti "adu maning".

Namun, setelah berkembang ke berbagai daerah, sebutan "adu maning" digantikan dengan nama Bagelen. Sejak itu, Roti Bagelen yang berbentuk bulat (roti pada burger) atau lonjong banyak dijumpai di pasar atau kios-kios makanan kering di luar Purworejo, seperti Yogyakarta dan Solo bahkan hingga keluar pulau jawa. Pembuatannya pun, sudah banyak dilakukan oleh pengusaha-pengusaha di luar Purworejo.

Dapet resep cara buat bagelen praktis karena sekarang musim dingin, susah juga kalo mesti bikin bagelen dari awal. Jadi memanfaatkan sisa roti yang ada bisa deh kita bikin bagelen praktis sendiri. Dimodifikasi dengan topping keju diatasnya..^_^

Bahan :
1 buah roti tongkat, belah memanjang, potong-potong selebar 5 cm

Bahan lapisan :
50 gr mentega
25 gr mentega putih
40 gr tepung gula

Cara membuat :
1. Kocok rata bahan lapisan
2. Oleskan lapisan di atas roti
3. Oven 25 menit dengan suhu 150 derajat celcius sampai kering

TIPS :
Kalau bentuk roti ingin betul-betul roti bagelen, gunakan roti burger ukuran kecil.

Sumber : CoPas dari Roti Bagelen|Jajanan.com

__________________________________________________________________

16 April 2011

November 2010 (END) Kembali Ke Jakarta


Kembali saya menceritakan perjalanan saya...
Setelah makan tongseng di warteg Bagelen, kembali saya meneruskan jalan kaki. Rencana untuk kembali ke Jakarta sudah ditetapkan untuk menggunakan jasa PO. Sumber Alam...
Jadilah saya jalan kaki melalui jembatan Bogowonto, untuk mencapai loket tiket PO. Sumber Alam di dekat pesaren Nyi Candi...
Harga tiket bus AC Rp.120.000... Lumayanlah, adeeem begitu naik bus ini... Tp ada satu hal yang masih saya ingat, yaitu saya tiba-tiba merasa agak sedih untuk meninggalkan desa Ketangi. Terbersit dalam pikiran:"Wah, Bapakku sendiri di sini... Padahal masih kangen teramat sangat.. Tp Pak, aku ya harus nemenin Mamak di Jakarta. Aku pamit Pak... InsyaAllah, ada waktu dan kesempatan, aku akan kembali mengunjungi Bapak..."...

19 Februari 2011

November 2010 (3) Ketangi dan Bagelen

Perjalanan kembali berlanjut. Setelah puas duduk2 di pertelon Pendowo, karena ingin benar2 membalas kerinduan pada suasana, saya benar2 melanjutkan perjalanan alias jalan kaki..









Jalanan sepertinya masih terkena dampak abu Merapi. Putih tertutup abu dikanan-kiri jalan. Setiap melangkah, setiap saat pula kebul abu muncul. Kemringet, sepatu 'hancur', ngelak, ngeleh... Yaaaa sudahlah, saya putuskan untuk memberhentikan sebuah kopada yang mengarah ke Bagelen dan menghabiskan biaya Rp.1500 untuk sekali jalan dan turun di Kijing (Nyi Candi).
Akhirnya sampai juga di 'mulut' dusun Ketangi. Penyamaran dimulai...


Kenapa harus nyamar?? Ya karena saya tidak mau dikenali. Bukan karena sombong, tetapi karena tidak ingin merepotkan. Bila saya dikenali, otomatis saya harus mampir ke tempat kerabat dan otomatis pula disuguhi sesuatu yang pastinya (menurut saya) merepotkan buat mereka. Maka lebih baik saya menyamar. Jalan kaki, menahan lapar sambil sesekali minum air mineral yg tadi saya beli dari Jenar dan sambil sesekali menyeka keringat. Demi sowan ke kuburan Bapak saya.






Kira2 ada 1/2 jam saya berjalan kaki dari Kijing hingga tiba ke kuburan Bapak. Keadaan disana agak2 menyedihkan akibat dampak dari Merapi. Banyak pring yang malang-melintang disana sini. Tapi saya tidak bisa lama2 disana. Cukup berdoa dan membersihkan sekedarnya lalu pamit dan kembali berjalan kaki ke Kijing.


Karena panggilan alam, saya memulai untuk mencari kedai nasi - warteg lah, walaupun bukan di Tegal. Harusnya WARPUJO ya (WARung PUrworeJO) :D. Sekalian juga 'menyalurkan' hobi jeprat jepret foto sana sini. Jalaaaaan kaki nyabrang kali sampai akhirnya tiba di pertelon Bagelen. Nah!!! Banyak warung disini dan pilihan jatuh ke warung kambing, sapi dan ayam. Hm.. maksudnya warung yang menjual makanan berbahan daging kambing, daging sapi dan daging ayam seperti tongseng, soto dkk.









Ada Yg Mengenali Ini???

Atau Ini???




Warung Makan

Lumayan lagi sepi, jadi mnunggunya tidak terlalu lama. Nyam2 nyam2 nyam2... Kenyang... Alhamdulillah... . Habis Rp.15ribu untuk seporsi tongseng dan sepiring nasi. Minumnya air Po**** Swe** yg katanya ada ionnya dan minuman kemasan lokal. Kalo ditotal untuk makan dan minum menghabiskan Rp.25ribu

..:: BERSAMBUNG ::..

16 Januari 2011

November 2010 (2) Pertelon Pendowo

Mampir sebentar ke kios makanan & minuman yang ada di stasiun Jenar, beli air mineral 2 botol, susu kotak dan minuman energi (nggo tombo ngantuk - sewengi nutuk ora turu, mung mantuk2 ning njero sepur.. :P)

Jalan kaki dari stasiun sampai pintu kereta dan di depan masjid memberhentikan kopada yang menuju Purworejo (kalo nggak salah). Turun di pertelon (pertigaan) Pendowo, menghabiskan ongkos sebesar Rp.1500,-.

Liat-liat sebentar kemudian nyebrang ke jalan raya yang ada lampu merahnya... :D
Duduk dulu di batu besar di pinggir jalan.. Ngamatin sekeliling.. Foto2 dan ini hasil foto2nya...









.:: B E R S A M B U N G :.

11 Desember 2010

November 2010

Berangkat tanggal 20 November, sore hari dari stasiun Pasar Senen.. Baru tau saya, kalo harga tiket KA Ekonomi Progo "disesuaikan". Sekarang harga tiket Progo Pasar Senen - Wates seharga Rp.35 ribu... Sialnya saya, dapat tiket tanpa tempat duduk. Lha wong beli tiketnya pada jam 5 sore... Kata si mbaknya yang jual tiket, semua kursi sudah habis... . Hmmm... .


Seperti biasanya, KA tiba sekitar pukul 20.55 wib. Edaaaaannnn...!!! Penuh banget...!!! Sempat saya ngobrol2 sama Mas2 yang mau pulang ke Jogja, katanya si Masnya, penumpang malam ini penuh karena sudah dua minggu ini perkuliahan yang di Jogja diliburkan karena terkena hujan debu vulkanik gunung Merapi. Jadi yang pada kuliah, liburan pulang ke rumah Orang Tuanya di Jabodetabek dan baru balik, kembali ke kampus untuk mengikuti perkuliahan lagi ya pas malam ini naik kereta Progo dengan tujuan Jogja. Yaaa, memang kalo diperhatikan sih bener juga karena kalo saya perhatikan di dalam gerbong, kebanyakan yang naik adalah anak2 kuliahan sepertinya. Bawa gembolan besar2 dan selalu berkelompok. Bayangin aja kalo anak2 pecinta alam yang pada mau naik gunung... Yaaa seperti itulah... .


Yaaa sudahlah, jalani saja. Naik kereta Progo, duduk beralaskan koran bekas. Berbagi rasa, berbagi kaki2 pedagang yang lalu lalang sambil teriak2: "Nasiii Rameeesssss, nganggo ayam-telor-sambele digoreng pak-bu-mas-mbak". Ada juga yang teriak2: "Aduuuh!!! Rika kepiye sih!!! Tangane inyong di idhak...", rupanya ada penumpang yang tangannya keinjek secara gak sengaja oleh penjual kopi yang sedang lalu-lalang... :D


Boleh dibilang, kereta malam itu berjalan tidak sesuai jadwal dari PT.KAI alias telaaaaaat banget... . Dulu sewaktu saya pulang bersama Ibu saya, sampe di stasiun Jenar sekitar pukul 5.30 wib... . Tapi hari itu, tanggal 21 November, kereta tiba di stasiun Jenar hampir jam setengah sembilan!!! Waahhh... saya terlambat mengabadikan matahari terbitnya. Padahal waktu itu sawah2 yang ada di depan stasiun Jenar sedang bagus2nya. Hijau2 pandan gituh... .

Setelah turun dari KA Progo, saya sempatkan dulu makan mie instan yang sudah saya beli di kereta sebelum turun tadi. Lumayanlah, buat menghangatkan perut yang sudah semalaman angin2an di dalam kereta. Duduk di bangku panjang stasiun (sementara masih merasakan "guncangan" di KA tadi), sambil nyeruput kuah mie... . Sementara para pengojek masih sibuk menawarkan jasanya untuk mengantar dengan imbalan sejumlah uang... . Lamaaa saya duduk di sana menikmati sinar matahari yang "sengatan"nya gak kalah sama sengatan lebah... .


Setelah puas duduk, saatnya kita jalan. Eiittss...!!! Berkunjung dulu ke loket untuk tanya2 barangkali bisa pesan tempat duduk untuk kereta yang balik ke Jakarta. Ouw.. ouw... ternyata tempat duduk sudah habis dipesan semua...!!! Begitupun kereta Sawunggalih yang berangkat dari Kutoarjo, semua tempat duduk sudah habis... . Hmmm... . Jadi berpikir untuk pulang ke Jakarta nanti nyoba naik bis Sumber Alam...


..:: BERSAMBUNG ::..

25 Juli 2010

Pasar Krendetan


Nah Ini Dia...!!! (Lho...??? Kok mirip salah satu rubrik di harian ibukota...???), saya upload foto2 sewaktu saya motret2 Pasar Krendetan di pagi hari (sekitar jam 7.00-7.30 lah karena waktu ke pasar ini, saya harus berdesakan dengan anak-anak sekolah).

Mungkin foto2nya kurang menarik menurut saya, karena memang waktunya tidak memungkinkan di saat itu untuk memuaskan diri untuk motret2. Ini pun telah saya lakukan editing supaya lebih "terang"... n_n

Karena penasaran dengan nama Krendetan, saat saya sudah kembali ke Jakarta saya searching di Google (weleh, nganggo searching barang... n_n). Wis tak ubeg-ubeg, nyatanya tidak ketemu juga asal muasal yang pasti mengenai nama Krendetan.
Seingat saya saat searching, nama Krendetan berasal dari "ngrendet-ngrendet". Ceritanya masih sekitar Nyai Bagelen... Tapi ndak tau saya. Karena menurut mbah Google, banyak versi asal mula kata nama Krendetan...


Sepertinya perlu diteliti itu ya... n_n

13 Juni 2010

Metungul Meneh Nang Kene


Aaaahhh...!!! Akhirnya bisa juga masuk di blog ini lagi. Mbok'eeee...!!! Aku wis metungul meneh nang kene...!!! Senangnya bisa update blog lagi setelah sekian lama ditinggalkan. Bayangkan...!!! Hampir setahun saya tidak membuka blog ini... Tapi sebenarnya bukannya tidak membuka, tapi memang sedang "sibuuuk" dan ada kendala lainnya yang agak memalukan: "LUPA"... . Yah... silakan pembaca mengira-ngira sendiri kendalanya apa itu... Hehehe... n_n.. .

Nah, untuk update bulan ini saya cuma mengganti tampilan dari blog saya ini... . InsyaAllah,,, lain waktu, akan saya tulis lagi cerita saya yang insyaAllah menarik untuk dicermati... . Hehehe... . (gaya mu lee lee, wis koyo pengamat pulitik wae... .)

Silakan corat-coret di kolom suaraku-suaramu atau di bagian komentar ya... . Ben tambah paseduluran... .

Nuwun,,, ...

28 Juli 2009

Dari Stasiun Jenar


Inilah yang saya rindukan kala saya mendengar kata "Jenar". Memang saya tidak lahir di Purworejo. Tapi dikarenakan Bapak saya seringkali mengajak saya kembali ke tempat kelahiran Beliau, maka saya pun menjadi ikut-ikutan merasakan kekhasan dari daerah ini. Apalagi kini Bapak saya sudah "menetap" di desa Ketangi, di pemakaman keluarga besar Mbah dari Bapak saya.

Persis seperti apa yang dilantunkan oleh Katon Bagaskara (KLA Project): "Pulang ke kota mu. Ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapa ku bersahabat penuh selaksa makna" (kalau tidak salah syairnya begitu). Meskipun judul lagunya bukan Purworejo, tetapi perasaan yang diungkapkan oleh si pembuat syair sama persis seperti yang dirasakan oleh orang-orang yang pulang ke kampung halamannya masing-masing.


Pasti ada sesuatu yang khas yang tidak akan pernah kita lupakan dan tentu akan selalu kita rindukan. Biarpun harus berdesakan pulang kampung, tapi akan terasa melegakan ketika kita sampai ke tempat yang kita rindukan.

14 Juli 2009

Untuk Yang Pernah Dilahirkan ... .

Bila kuingat masa kecilku
Kuslalu menyusahkanmu
Bila kuingat masa kanakku
Kuslalu mengecewakanmu

Banyak sekali pengorbananmu
Yang kau berikan padaku
Tanpa letih dan tanpa pamrih
Kau berikan semua itu

Engkaulah yang ku kasihi
Engkaulah rinduku
Ku harap slalu doamu
Dari dirimu ya ibu

Tanpa doamu takkan kuraih
Tanpa doamu takkan kucapai
Segala cita yang kuinginkan
Dari diriku ya Ibu

Shoutul Haq - Ibu

10 Juli 2009

Akhirnya Kumenemukanmu (mp3 Kutho Purworejo)

Akhirnya saya menemukannya!!! Download gratis mp3 lagu Kutho Purworejo. Lha ini linknya: http://www.4shared.com/network/search.jsp?searchmode=2&searchName=kutho+purworejo
Silakan di klik atau di klik link pada judul postingan ini. Saya sudah mendownloadnya. Ukuran filenya sekitar 4,5 MB. ... . Hasilnya bagus kok... . n_n

08 Juni 2009

Arisan Warga Purworejo Radio P2SC Walet Emas Jakarta


Pada tanggal 6 Juni, Sabtu kemarin, saya menghadiri arisan warga Purworejo yang diselenggarakan oleh Radio P2SC. Malam itu ada yang istimewa dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Selain tempatnya yang memang bukan di tempat yang biasanya (biasanya ngumpul di Radio P2SC), yaitu di rumah Bapak H. Mauludin, hal ini juga karena acaranya bukan cuma arisan. Tapi juga penyampaian laporan dan pembubaran panitia HUT Arisan Warga Purworejo.


Acara dimulai sekitar pukul 19.30 dengan makan bersama, ternyata masakannya enak juga... maklum Bapak H. Mauludin juga habis hajatan menikahkan anaknya (inilah alasannya mengapa tempat arisan tidak diselenggarakan di Radio P2SC). Setelah itu, giliran panitia HUT menyampaikan laporan penyelenggaraan acara HUT dan dilanjutkan dengan pembubaran panitianya. Acara terakhir yang juga merupakan acara puncak adalah arisan, dan orang yang mendapatkan rejeki pada malam itu adalah ... ibu saya. He..he... . Saya tidak heran, lha wong sebenarnya nama ibu saya sudah keluar pada bulan Mei yang lalu. Akan tetapi ibu saya memilih untuk mengundurkan penerimaannya sehingga pada bulan Mei nama ibu saya kembali disertakan dan dilakukan pemilihan kembali dan orang lain lah yang mendapatkan rejeki itu (memang kalo sudah rejeki tidak bakalan lari).


Setelah semua susunan acara arisan hari itu selesai, seluruh anggota arisan warga Purworejo pulang ke rumahnya masing-masing. Pada saat itu selesai sekitar pukul 21.30, jadi acara arisan ini berjalan sekitar 2 jam saja. Untuk arisan bulan depan akan dilaksanakan pada tanggal 4 Juli di Radio P2SC dan merupakan arisan penutupan karena bulan Agustus sudah persiapan untuk menyambut Ramadhan.

Sayang sekali saya tidak datang saat acara HUT tersebut yang dilaksakan pada tanggal 3 Mei. Padahal acaranya ramai banget. Sayang sekali... .

18 Mei 2009

Syuruq Yang Luar Biasa!!!


Ya!!! Syuruq yg luar b iasa!!! Itulah judulnya. Ada yg tahu apa itu syuruq??? Syuruq adalah waktu setelah waktu subuh dimana matahari baru menampakkan sinarnya saja. Kalau ada yang pernah lihat kalender hijriah yg ada jadwal sholatnya pasti ada. Waktunya hanya beberapa menit setelah subuh.

Nah. . . kebetulan pada tanggal 18 Mei saat saya ke Masjid Al Akbar, saya membawa kamera foto saya. Saya berjalan menuju masjid tak begitu jauh. Ya boleh dibilang hanya "Mlumpat Kali", bukan kali beneran, tapi hanya istilah karena jaraknya sangat pendek. Tak lama setelah selesai sholat, saya kemudian duduk-duduk di tangga masjid. Lumayan menunggunya karena menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan, katanya. Tapi disaat menunggu inilah saya juga mendapatkan banyak "ilmu". Tak banyak memang jamaah masjid.


Satu persatu keluar dan melewati saya. Ada yang membicarakan tentang sholat yg baru saja selesai: "Tadi sholatnya gak qunut ya???". Yang diajak bicara dengan sedikit tertawa mengiyakan dan ngobrol pun berlanjut hingga mereka keluar gerbang masjid.


Ada pula jamaah yang tampilannya agak meyakinkan, memakai gamis dan sorban. Mereka juga membicarakan hal yang sama. Hampir semua jamaah membicarakan hal yang sama!!! Ketika itu sinar matahari sudah mulai muncul shingga di cakrawala terwarnai dengan warna biru yang indah. Di saat itulah saya mulai beranjak untuk berkeliling masjid. Hasilnya adalah seperti foto-foto yang saya upload ini. Biru yang indah, warna-warna langit syuruq yang luar biasa. Tapi semua orang yang tadi sholat di masjid abai akan hal itu. Sama saja dengan politisi kita. Mereka selalu membicarakan hal yg sama. Mereka terlalu sibuk berdebat dan lebih senang berdebat.

Padahal didepan mata mereka ada sesuatu yg lebih. Sayang ya! Karena terlalu sibuk ngobrol, jadi abai pada suatu keindahan. Dan dari keindahan itu tersembunyi kekuatan dan kekuasaan Sang Pencipta. Mari nikmati manfaat indera untuk bersyukur. Mari. . . .

15 Mei 2009

Aku Ingin Hidup 1000th Lagi!!! (Yakin???)

Ualaaah!!! Biarpun sudah menguap berkali-kali tapi tetap aja nggak bisa merem. Mata tetap terjaga! Apalagi kalau bukan insomnia-ku datang kembali. Padahal sudah lama si insomnia ini pergi jauh. Kenapa ya kok balik lagi??? Apa karena saya banyak pikiran??? Bisa iya bisa tidak. Iya karena saya sedang senang2-nya belajar segala hal untuk meningkatkan skill ber-komputer saya. Tapi mosok gara-gara senang begitu bisa jadi begini??? Ya. . . tapi tidak apalah. Malah semua ini mendatangkan hikmah tersendiri.

Kalau dianalogikan dengan kehidupan manusia, kenapa ada hidup ada mati. Seperti di film-film dimana tokohnya mencari sesuatu benda atau apalah yang bisa membuat dirinya awet muda dan kalau bisa hidup selamanya. Bisakah??? Atau lebih tepatnya adalah bosankah???

Kembali ke insomnia saya. Jika insomnia saya ini sebagai "hidup abadi" maka saya akan merasakan bosan yang amat sangat kalau saya diijinkan oleh Pencipta saya untuk hidup selamanya. Lha wong tidak tidur semalam suntuk saja sudah bosan. Apalagi kalau harus hidup selamanya.

Ada juga yang mengatakan kalau bisa hidup abadi mungkin menyenangkan. May??? May be yes may be no. Saya pilih opsi kedua. Hidup abadi tidak menyenangkan (may be no, and it must be no!). Sementara kita, seandainya bisa hidup abadi orang-orang yang kita kenal, yang kita sayang, yang kita cintai semuanya bakal meninggalkan kita. Mau hidup abadi tapi sendirian saja di dunia??? Nggak lah yau!!!

Oleh karena itu, semuanya ada takarannya. Semuanya ada limitnya. Hidup dan mati kita ada intervalnya. Dan semuanya itu membawa kebaikan bagi kita. Mungkin kita sebagai manusia kurang paham akan kebaikan yang telah dan akan diberikan oleh Pencipta kita. Ada baiknya manusia berfikir secara mendalam sebelum menjustifikasi sesuatu yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Tapi ngomong2, kok saya nggak ngantuk2 ya??? Padahal sudah mau subuh.

Wassalam. . . .

11 Mei 2009

Lirik Lagu "KUTHO PURWOREJO"

Lirik lagu ini lagi-lagi menggugah ingatan saya akan kota kelahiran Bapak saya. Purworejo akhirnya diabadikan dalam sebuah lagu. Sebenarnya saya sudah lama browsing di dunia maya untuk menemukan liriknya dan pada hari ini pencarian itu berakhir karena saya menemukannya pada sebuah blog dengan alamat:

http://prazzhu.wordpress.com/2009/02/08/kutho-purworejo/

Terima kasih saya ucapkan kepada mas Prass yang telah memuat lirik Kutho Purworejo di blog-nya. Semoga bisa berguna bagi orang-orang yang masih teringat akan kampung halaman, Purworejo.

KUTHO PURWOREJO

voc Dul Giman/dini adhitama

+sesuk minggu dik ayo tak jak melu aku
+melu aku mlak- mlaku ning purworejo
+kutho purworejo sak kulon ngayojokarto
+kuthane resik tur akeh tempat wisoto

-aku melu mas mlaku-mlaku neng purworejo
-pingin ngerti edhahe kutho purworejo

+kutho purworejo dik
+akeh seng kondhang neng kono
+yen sliramu melu di jamin ora kuciwo

(alah tenane
ra percoyo to…?
buktekke)

-opo bener mas bedhugke kondhang kaloko
+bedhug purworejo sing paling gede sak ndonyo

-ning ngendhi wae mas tempate pariwisoto
+goa seplawan pantai ketawang tekan jatimalang
-yen ning jatikontal mas
+nelayane seng terkenal
-yen ning bagelen mas
+sisuk tak tukokke duren

(bener ni duren apa duren ….???
yo duren to..?
karepmu ki opo)

……………………….
+sesuk minggu dik ayo tak jak melu aku
+melu aku mlak- mlaku ning purworejo
+kutho purworejo sak kulon ngayojokarto
+kuthane resik tur akeh tempat wisoto

08 Mei 2009

Kangen Karo Bapak Ku


Ya biarpun sudah tidak ada di dunia, tapi ingatan akan seseorang pasti akan tetap ada. Seperti sekarang saya kembali teringat dan terasa kangen banget karo Bapak ku. Semoga dengan saya memuat foto Bapak ku di blog ku ini, mudah-mudahan rasa kangen ku dapat terobati.

I miss U Dad. Wait for me in the gate of heaven. I'll see You soon in the next day, in the gathering day. (Seperti lagu-nya Sujiwo Tedjo: Ketemu ing Dino Mburi)

07 Mei 2009

Desa Ketangi, pantai Ketawang & Jenar di tahun 1980-an


Seharusnya ini yang cerita kakak ku. Lha saya belum lahir pada awal tahun 1980. Tapi menurut penuturan mamak ku dan kakak-kakak ku, di sekitar tahun 1980-an lah foto ini dibuat. Bisa dilihat disini, rumah Mbahku masih kelihatan bagus dan masih utuh. Orang yang disebelah kanan (yang sedang memegang ganter) itu adalah Mbah kakung ku. Yang duduk di amben depan rumah adalah BuLek ku dan kakak ku yang umurnya kira-kira masih 2 tahun.

Nah kalo ini adalah foto mamak ku dan kakak sulung ku ketika pulang dari pasar melewati jalan depan rumah.

Lalu foto yang ketiga adalah foto kakak-kakak ku (lagi makan jajanan pasar) sedang liburan di pantai Ketawang. Ketika itu pantai Ketawang sedang ramai-ramainya dikunjungi orang karena memang sedang liburan sekolah. Walah enake. Padahal saya sampai sekarang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di pantai Ketawang. Paling kalo liburan ke Purworejo diajaknya pergi ke pasar (kayak sarimin aja).

Kedua foto terakhir ini adalah foto di stasiun Jenar. Yang pakai jaket biru dan memangku bocah cilik adalah almarhum Bapak ku. Saat itu sedang menunggu kereta yang akan menuju Jakarta. Foto yang satunya lagi juga masih di stasiun Jenar. Yang sedang mejeng pakai celana cutbry adalah Pak Lek ku yang sekarang tinggal di Jakarta dan kerja di RS Islam Cempaka Putih. Yang pakai jaket merah adalah PakDe ku dan yang ditengah adalah PakLek ku dan anaknya.

Masih banyak cerita menarik mengenai Purworejo di dalam ingatanku dan penuturan orang-orang disekitarku. Semoga sabar menunggu cerita-cerita dariku. Apalagi sekitar bulan Agustus nanti aku akan balik ke kampung untuk mendak Bapakku. Mudah-mudahan Allah paring rejeki lan yuswo kanggo aku. Dongak no yo!!!